Selasa, 14 Februari 2017

Sekjen PBB Yang Baru Mengakui Bait Suci adalah Milik Yahudi

António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB kesembilan sejak 1 Januari 2017, sebelumnya menjabat Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), mengatakan kepada Radio Israel pada hari Minggu bahwa sudah jelas bahwa Bait Suci Yerusalem yang dihancurkan tentara Roma adalah milik Yahudi. 

antonio-guterres

Pernyataan ini hanya berselang beberapa bulan sesudah pernyataan memalukan oleh UNESCO yang mengabaikan hubungan apa pun antara orang-orang Yahudi dengan Yerusalem. Guterres menjabat sebagai Perdana Menteri Portugal dari tahun 1995-2002, dan Sekretaris Jenderal Partai Sosialis dari tahun 1992 hingga 2002. Ia juga menjabat sebagai Presiden Sosialis Internasional dari tahun 1999 sampai 2005. Pada tahun 2012, Guterres menunjuk aktris Amerika Angelina Jolie sebagai Utusan Khusus untuk mewakili UNHCR dan dirinya sendiri di tingkat diplomatik. 

Berbicara kepada radio Israel di New York, Sekretaris Jenderal Guterres mengatakan tidak ada seorang pun hari ini dapat menyangkal bahwa Yerusalem adalah sakral bagi tiga agama monoteistik dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Sekretaris Jenderal PBB yang baru ini juga mengatakan dia tidak berencana memulai sebuah langkah politik antara Israel dan Otoritas Palestina, meskipun ia percaya pada Solusi Dua-Negara dan akan membantu kedua belah pihak jika mereka memintanya. 

Dia juga menekankan bahwa ia bermaksud untuk menuntut perlakuan yang sama terhadap semua negara anggota PBB. Selama sesi khusus Majelis Umum PBB untuk menghormati Hari Peringatan Internasional Memperingati Korban Holocaust pada hari Jumat, Guterres mengatakan dunia memiliki kewajiban untuk mengingat bahwa Holocaust adalah upaya sistematis untuk memusnahkan orang-orang Yahudi dan banyak orang lainnya, mencatat bahwa membangun masa depan yang bermartabat dan berkesetaraan untuk semua akan menghormati para korban “tragedi tak tertandingi dalam sejarah manusia […] yang tidak akan pernah kita biarkan untuk dilupakan.” Guterres mengatakan dalam pesan video bahwa merupakan kesalahan berbahaya untuk berpikir bahwa Holocaust hanyalah sebagai akibat dari kegilaan sekelompok kriminal Nazi. “Sebaliknya, Holocaust adalah kulminasi dari ribuan tahun kebencian, pengkambing-hitaman dan pentargetan diskriminatif terhadap orang-orang Yahudi, apa yang sekarang ini kita sebut anti-Semitisme,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa secara tragis dan bertentangan dengan tekad masyarakat internasional, anti-Semitisme masih terus berkembang. Selain itu, dunia juga menyaksikan meningkatnya ekstrimisme, xenophobia, rasisme dan kebencian anti-Muslim yang “sangat mengganggu”. “Irasionalitas dan intoleransi telah kembali,” kata Sekjen PBB yang baru. Menekankan bahwa ini kontras dengan nilai-nilai universal yang tercantum dalam Piagam PBB dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, 

Guterres mengatakan: “Kami tidak pernah bisa diam atau acuh tak acuh ketika manusia menderita. Kita harus selalu membela yang lemah dan membawa para penindas ke pengadilan. Dan sebagai tema perayaan utama tahun ini, masa depan yang lebih baik bergantung pada pendidikan.” “Sesudah kengerian abad ke-20, seharusnya tidak ada ruang untuk intoleransi dalam abad ke-21. Saya menjamin Anda bahwa sebagai Sekretaris Jenderal PBB, saya akan berada di garis depan pertempuran melawan anti-Semitisme dan segala bentuk lain dari kebencian,” kata Guterres. 

Palestina Mengecam Pernyataan Sekjen PBB yang Baru 

Para pejabat Palestina mengecam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Minggu karena mengatakan bahwa sebuah Bait Suci ada di atas Gunung Bait Suci. “[Guterres] mengabaikan keputusan UNESCO yang menganggap Masjid Al-Aksa murni warisan Islam,” kata Adnan al-Husseini, 

Menteri Otoritas Palestina untuk Urusan Yerusalem, kepada Xinhua, kantor berita China, menjelaskan bahwa Sekjen PBB “melanggar semua aturan hukum, diplomatik dan kemanusiaan, melampaui kedudukannya sebagai sekretaris jenderal, dan … harus mengeluarkan pernyataan permintaan maaf kepada rakyat Palestina.” 

Ahmad Majdalani, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, mengatakan bahwa pernyataan tersebut “merusak kepercayaan PBB sebagai badan yang seharusnya mendukung bangsa yang diduduki.” 

“Tampaknya Sekjen PBB kurang pengetahuan dan budaya dalam spesialisasinya sendiri,” kata Majdalani, yang juga menjabat sebagai penasihat Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, kepada Xinhua, menyerukan Sekjen PBB untuk mengklarifikasi posisinya “yang memberikan lampu hijau kepada pendudukan untuk melakukan lebih banyak tindakan terhadap Yerusalem. 

” Komite Warisan Dunia UNESCO menyetujui resolusi pada Oktober 2016 yang tidak menyebutkan hubungan antara bangsa Yahudi terhadap Gunung Bait Suci, dan secara eksklusif menyebut situs suci itu sebagai situs yang dikenal dalam Islam, Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif. 

Fayez Abu Eitah, sekretaris jenderal Dewan Revolusi Fatah, mengatakan bahwa pernyataan Guterres tidak dapat diterima secara politik dan moral. 

“[Pernyataan] itu merupakan serangan langsung terhadap hak rakyat Palestina di kota suci, bias dalam mendukung situs pendudukan, dan sama dengan memberi legitimasi terhadap kehadiran ilegal Israel di Yerusalem,” kata Abu Eitah kepada televisi resmi Otoritas Palestina. 

Lebih jauh, perwakilan Palestina untuk UNESCO Mounir Anastas menolak pernyataan Guterres, yang menurut pendapatnya tidak memiliki signifikansi legal, ketika mengatakan bahwa Gunung Bait Suci adalah situs suci bagi tiga agama Semitic, menurut radio resmi Otoritas Palestina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar